Tangerang – Upaya membangun budaya kerja yang kolaboratif dan penuh rasa memiliki di PT DSL Indonesia kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan training “Consultative Approach: Building Sense of Belonging” bersama Khazhen Training pada Rabu, 19 November 2025. Bertempat di kantor PT DSL Indonesia, Berlian 88 Biz Estate @Karawaci, pelatihan intensif selama satu hari penuh ini berlangsung dari pukul 08.00–17.00 WIB dan diikuti oleh 20 peserta lintas divisi.
Program ini didesain sebagai training engagement karyawan yang tidak hanya membahas konsep, tetapi juga mendorong peserta untuk menemukan kembali purpose pribadi, memperkuat rasa kepemilikan terhadap perusahaan, serta lebih berani menyuarakan ide dan melakukan improvement di tempat kerja.

Menguatkan “Sense of Belonging” di Lingkungan Kerja
Tujuan utama pelatihan ini adalah agar para peserta menemukan makna bekerja sekaligus menumbuhkan sense of belonging terhadap PT DSL Indonesia. Dengan rasa memiliki yang kuat, diharapkan karyawan tidak sekadar datang, bekerja, pulang, tetapi benar-benar merasa menjadi bagian dari perjalanan dan pertumbuhan DSL.
Dalam laporan resmi pelatihan, dirumuskan bahwa peserta diharapkan:
-
Menemukan kembali purpose pribadi dalam pekerjaannya.
-
Memiliki rasa kepemilikan yang lebih kuat terhadap PT DSL Indonesia.
-
Berani mengemukakan ide dan saran perbaikan.
-
Aktif melakukan improvement di unit kerja masing-masing.
Dengan fokus tersebut, training ini menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam membangun budaya “We Grow Together”—budaya yang menempatkan pertumbuhan perusahaan dan karyawan sebagai satu kesatuan.
Sehari Penuh Belajar dan Refleksi

Training “Consultative Approach: Building Sense of Belonging” diselenggarakan langsung di area operasional PT DSL Indonesia di Tangerang, Banten. Suasana kelas dikemas interaktif dengan penataan meja berbentuk U sehingga memudahkan peserta untuk saling melihat, berdiskusi, dan berinteraksi dengan fasilitator.
Rincian kegiatan:
-
Lokasi: PT DSL Indonesia, Berlian 88 Biz Estate @Karawaci, Tangerang.
-
Tanggal: Rabu, 19 November 2025.
-
Waktu: 08.00 – 17.00 WIB.
-
Jumlah peserta: 20 orang dari berbagai posisi dan divisi.
-
Tim Khazhen: 1 trainer utama dan 2 supporter.
Laporan DSL 19 November Sense B…
Foto-foto dalam laporan memperlihatkan peserta yang tekun mencatat materi, berdiskusi dalam kelompok kecil, hingga mempresentasikan hasil pembahasan di depan rekan-rekannya. Ada pula momen penyerahan penghargaan untuk kelompok terbaik dan peserta terbaik, yang menambah semangat kompetitif sekaligus apresiatif selama pelatihan.
Trainer Berpengalaman: Usman Efendi, Heavy Equipment Consultant

Pelatihan ini difasilitasi oleh Usman Efendi, seorang Heavy Equipment Consultant yang juga CEO Khazhen Group dan dikenal sebagai praktisi serta trainer di bidang alat berat dan pengembangan SDM.
Dalam profil resminya, tercatat bahwa Usman Efendi:
-
Berperan sebagai CEO Khazhen Group.
-
Menjabat Deputy ALPK3 Indonesia DPW Jabar.
-
Merupakan Certified TEMPA Trainer Guild dan Associate Trainer di Akademi Trainer.
-
Berpengalaman sebagai Ahli K3 PAPA & PTP.
-
Menjadi anggota TEMPA Trainers Guild.
-
Penulis buku Sales Forklift & Consultative Approach.
Kombinasi pengalaman teknis di industri alat berat dan keahlian di bidang people development membuat perspektif yang dibagikan relevan dengan keseharian peserta, khususnya dalam konteks bisnis PT DSL Indonesia sebagai one stop shop untuk forklift dan aksesorinya.
Hasil Survey: Indeks Sense of Belonging yang Menggembirakan

Salah satu kekuatan utama training ini adalah adanya survey indeks sense of belonging yang mengukur persepsi peserta terhadap berbagai dimensi penting dalam pengalaman kerja mereka. Hasilnya menunjukkan angka yang cukup tinggi di hampir semua aspek.
Rata-rata skor per dimensi (skala 1–5):
-
Kejelasan Peran & Makna Pekerjaan – 4,60
-
Keamanan Psikologis & Dukungan – 4,13
-
Apresiasi & Pengakuan – 3,85
-
Pertumbuhan & Pengembangan – 4,19
-
Hubungan & Kolaborasi Tim – 4,42
-
Kebanggaan & Komitmen – 4,53
-
Keterlibatan & Otonomi – 4,50
Dari angka tersebut terlihat bahwa peserta merasa cukup jelas dengan peran dan makna pekerjaannya, bangga menjadi bagian dari DSL, dan memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi. Dimensi yang masih bisa terus diperkuat adalah apresiasi dan pengakuan, yang meski sudah berada di level baik, tetap menyimpan ruang untuk pengembangan lebih lanjut.
Kepuasan Peserta: Rata-rata 4,71 dari 5
Secara keseluruhan, tingkat kepuasan peserta terhadap training ini sangat tinggi, dengan rata-rata skor 4,71 dari 5. Skor ini merupakan agregasi dari empat kategori utama: fasilitator, materi & desain program, aspek belonging & engagement, serta niat implementasi.
Rinciannya sebagai berikut:
Laporan DSL 19 November Sense B…
-
Fasilitator: 4,75
-
Materi & Desain Program: 4,67
-
Belonging & Engagement: 4,75
-
Niat Implementasi: 4,67
Pada bagian evaluasi fasilitator, peserta menilai bahwa:
-
Fasilitator menguasai materi Belonging & Engagement (rata-rata 4,74).
-
Penyampaian materi dinilai jelas, runtut, dan mudah diikuti (4,74).
-
Fasilitator mampu membangun antusiasme peserta (4,84).
-
Contoh dan studi kasus yang dibawakan relevan dengan konteks kerja di DSL (4,63).
-
Peserta merasa dihargai dan dilibatkan selama sesi (4,79).
Laporan DSL 19 November Sense B…
Dari sisi materi dan desain program, peserta menegaskan bahwa:
-
Tujuan pelatihan disampaikan dengan jelas sejak awal (4,63).
-
Materi “We Grow Together” dirasa sangat relevan dengan pekerjaan mereka (4,84).
-
Alur sesi, aktivitas, dan pengelolaan waktu dinilai pas (4,58).
-
Slide dan alat bantu belajar mudah dipahami (4,74).
-
Sesi praktik dan refleksi membantu peserta melihat penerapan di unit masing-masing (4,58).
Dampak pada Belonging & Engagement Karyawan

Evaluasi juga menunjukkan dampak nyata training ini terhadap rasa keterhubungan (belonging) dan keterlibatan (engagement) karyawan.
Beberapa poin penting:
-
Peserta merasakan peningkatan rasa keterhubungan dengan tim dan perusahaan (skor 4,84).
-
Mereka merasa lebih nyaman menyampaikan ide dan pertanyaan, tanda meningkatnya psychological safety (4,58).
-
Pemahaman terhadap peran pribadi dalam tujuan bersama DSL meningkat (4,74).
-
Motivasi untuk memberikan usaha ekstra di pekerjaan ikut terdongkrak (4,84).
-
Peserta melihat peluang memperbaiki kolaborasi lintas divisi dan merasa tahu langkah awal yang perlu dilakukan (4,74).
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa training ini tidak hanya berhenti pada tataran wawasan, tetapi juga menyentuh aspek sikap dan perilaku kerja yang menjadi fondasi engagement karyawan jangka panjang.
Niat Implementasi: Dari Kelas ke Lapangan
Satu lagi indikator penting dari keberhasilan training adalah niat implementasi. Dalam laporan, peserta menyatakan:
-
Mereka yakin bahwa praktik-praktik kecil harian dari pelatihan ini akan memperkuat budaya “We Grow Together” (4,79).
-
Training membantu tim menyepakati perilaku yang mendukung belonging & engagement (4,74).
-
Mereka akan merekomendasikan pelatihan ini kepada rekan kerja (4,74).
-
Dalam 30 hari ke depan, peserta berkomitmen mencoba minimal satu praktik nyata dari pelatihan (4,79).
-
Mereka menilai atasan kemungkinan besar akan mendukung implementasi praktik tersebut (4,42), dan tim akan memberi ruang untuk mencoba hal baru (4,53).
Dari sisi persepsi dampak, 63% peserta menilai bahwa pelatihan ini akan memberi manfaat lebih dari 70% terhadap keyakinan pribadi mereka di unit kerja, baik dalam hal perubahan perilaku maupun efektivitas kerja. Sementara itu, mayoritas lainnya menilai dampaknya berada di rentang 50–70%, tanpa ada responden yang menilai dampak di bawah 25%.
Data ini menunjukkan bahwa training Consultative Approach: Building Sense of Belonging bukan sekadar “kegiatan sekali datang”, tetapi memiliki potensi besar untuk diterjemahkan menjadi perubahan perilaku sehari-hari di lingkungan PT DSL Indonesia.
Konsistensi Dukungan dan Perubahan Kebiasaan
Meski hasilnya sangat positif, laporan juga menyoroti beberapa area perhatian yang perlu direspons perusahaan agar dampak training tetap berkelanjutan.
Beberapa tantangan yang muncul di lapangan antara lain:
-
Kebiasaan lama yang sudah mengakar dan membutuhkan waktu untuk diubah.
-
Pola komunikasi lintas divisi yang masih perlu diperkuat agar ide dan inisiatif perbaikan tidak terhambat.
-
Kebutuhan akan dukungan nyata dari atasan, baik dalam bentuk kepercayaan, apresiasi, maupun pemberian ruang untuk mencoba hal baru.
Laporan menekankan bahwa keberlanjutan program akan sangat ditentukan oleh konsistensi leadership dalam mengawal praktik-praktik baru yang lahir dari training ini. Dengan kata lain, training telah menyalakan api, dan kini giliran para pemimpin di setiap level untuk menjaga nyalanya.
Langkah Nyata Membangun Budaya “We Grow Together”
Training “Consultative Approach: Building Sense of Belonging at PT DSL Indonesia” bersama Khazhen menjadi contoh konkret bagaimana program pengembangan SDM yang terencana, terukur, dan relevan dapat memberikan dampak yang nyata terhadap budaya kerja, rasa memiliki, dan engagement karyawan.
Dengan tingkat kepuasan yang tinggi, komitmen peserta untuk beraksi dalam 30 hari ke depan, serta dukungan perusahaan yang terus diperkuat, pelatihan ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam perjalanan budaya “We Grow Together” di PT DSL Indonesia.
Ke depan, kombinasi antara penguatan leadership, konsistensi komunikasi, dan program pelatihan lanjutan akan menjadi kunci agar semangat belonging yang sudah tumbuh di kelas dapat benar-benar terasa dalam setiap interaksi kerja—mulai dari ruang meeting, area operasional, hingga layanan kepada pelanggan.
Dengan demikian, training ini bukan hanya sebuah agenda di kalender perusahaan, tetapi sebuah investasi strategis untuk memastikan bahwa PT DSL Indonesia terus tumbuh bersama orang-orang terbaiknya, dari hari ini hingga tahun-tahun mendatang.