Selama saya hidup di dunia penjualan forklift, ada satu pola yang tidak pernah berubah: marketnya stabil, kebutuhannya berulang, tapi tetap saja banyak sales forklift yang gagal menutup penjualan. Aneh? Tidak juga. Dan saya tahu persis sebabnya.
Saya sering bilang begini dalam training: “Industri forklift itu keras kepala. Tapi pembelinya itu logis. Yang bikin gagal biasanya sales-nya sendiri.”
Saya bilang begitu bukan untuk merendahkan, tapi karena saya melihat sendiri, berkali-kali, bagaimana sales yang sebenarnya punya potensi besar… pelan-pelan tumbang di tengah jalan karena membuat kesalahan yang sama dari tahun ke tahun.
Yang menarik, kesalahan itu terjadi bukan karena mereka malas atau tidak mau belajar. Kebanyakan sales forklift itu sebenarnya rajin kok: bangun pagi, kunjungan, WA-an customer, ngirim penawaran, telepon sana-sini. Tapi kesalahan-kesalahan kecil yang mereka anggap sepele, tanpa disadari berubah menjadi “virus” yang menghambat peluang closing.
Mari kita masuk ke cerita sebenarnya.
Ketika Sales Tidak Dipercaya oleh Customer, Closing Sulit Terjadi
Salah satu akar kegagalan closing dalam dunia forklift adalah ketidakmampuan sales untuk membuat customer percaya bahwa mereka benar-benar mengerti kebutuhan di lapangan.
Bayangkan begini:
Seorang sales datang ke pabrik kimia. Setelah mengucapkan salam dan basa-basi, dia langsung membuka brosur dan menjelaskan spesifikasi. “Ini kapasitas 3 ton, diesel, lebih kuat, Pak. Harganya sekian.”
Di kepala sales, ia sudah merasa melakukan “tugas sales” dengan benar.
Di kepala customer? “Orang ini cuma mau jualan, bukan mau bantu bisnis saya.”
Dan begitu persepsi itu muncul… selesai. Closing hampir mustahil terjadi. Saya sudah lihat puluhan kasus serupa.
Saya pernah mendampingi evaluasi penjualan di salah satu perusahaan material handling. Dari 12 sales, hanya dua yang closing konsisten tiap bulan. Setelah saya pelajari, bukan karena skill menjual mereka paling top… tapi karena mereka paling paham aplikasi.
Pahami ini baik-baik:
Dalam dunia forklift, spesifikasi hanyalah pembuka. Yang menentukan closing adalah pemahaman kita terhadap operasional pelanggan.
Ketika Anda tidak paham aplikasi—tinggi racking, kondisi lantai, pola loading-an harian, lebar aisle—Anda tidak sedang menjual, Anda hanya sedang menebak-nebak.
Dan pelanggan tidak akan membeli forklift dari orang yang hanya “menebak”.
Masalah Follow Up yang Hanya “Formalitas”
Kesalahan berikutnya yang paling sering saya lihat adalah gaya follow up yang asal jalan. Banyak sales forklift merasa sudah follow up, padahal yang dilakukan sebenarnya cuma mengirim tiga pesan WA yang bahkan tidak memberikan value apa pun.
Saya masih ingat salah satu anak sales di sebuah dealer besar, sebut saja namanya “D”. Ketika saya tanya kenapa prospeknya tidak closing, dia bilang begini:
“Saya udah follow up kok Pak. Tiga kali.”
Saya hanya tersenyum.
Karena dalam industri forklift, tiga kali follow up itu bukan “usaha”, itu baru pemanasan.
Saya sendiri, waktu masih jadi sales aktif, pernah follow up seorang customer lebih dari 15 kali dalam 1 bulan. Tapi semua follow up itu berisi. Ada sesuatu yang saya bawa:
-
hasil simulasi lifting height,
-
video cara kerja unit,
-
rekomendasi jenis ban berdasarkan kondisi lantai,
-
insight soal biaya downtime,
-
bahkan sekedar voice note penjelasan tentang perbedaan dua tipe unit.
Customer bahkan pernah bilang, “Sudah saya simpan semua penjelasan Bapak. Saya jadi lebih paham forklift daripada teknisi saya sendiri.”
Follow up yang bermakna menciptakan hubungan.
Follow up yang “formalitas” hanya menciptakan jarak.
Customer bisa merasakan mana sales yang benar-benar mau bantu, dan mana yang cuma mengikuti SOP.
Menggali Kebutuhan Secara Dangkal, Lalu Insecure Saat Kompetitor Datang
Anda mau tahu kapan seorang sales forklift paling rentan kalah?
Ketika dia tidak menggali kebutuhan secara mendalam saat kunjungan pertama.
Banyak sales masuk ke area loading dock, melihat forklift lama, lalu bertanya:
“Ini biasanya ngangkat berapa ton, Pak?”
Lalu dia merasa itu sudah cukup untuk membuat penawaran.
Padahal forklift bukan cuma soal tonase.
Forklift itu soal konteks operasional.
Kalau sales tidak menanyakan:
-
material apa yang diangkat,
-
bagaimana cycle kerja per jam,
-
berapa jam shift,
-
kondisi tanjakan,
-
lebar turning radius,
-
jarak horizontal sebelum masuk racking,
-
keamanan operator,
-
akumulasi beban saat mast naik ke level tertinggi,
maka ia sedang menaruh nasibnya pada keberuntungan.
Dan tragedinya adalah: ketika kompetitor datang dan membuat analisa lebih lengkap, customer langsung sadar siapa yang “lebih ngerti”.
Saya pernah melihat sendiri kejadian ini di sebuah gudang FMCG besar. Sales A datang, tanya sedikit, kirim penawaran. Sales B datang, ukur lantai, menganalisis kontur, menghitung tinggi racking, menggambar layout sederhana, dan memberikan rekomendasi yang lebih relevan.
Sales A kaget ketika akhirnya kalah, padahal ia memberi harga lebih murah.
Tapi customer lebih memilih sales B karena:
“Orang itu paham kebutuhan kami.”
Ingat baik-baik:
Dalam forklift, pemenangnya bukan yang paling murah, tapi yang paling mengerti risiko operasional customer.
Saat Sales Tidak Percaya Diri Menghadapi Harga dan Kompetisi
Salah satu momen paling menentukan dalam proses closing forklift adalah ketika customer mengatakan:
-
“Kok mahal ya?”
-
“Brand lain kasih harga lebih murah.”
-
“Diskon bisa berapa?”
Banyak sales panik.
Secara reflek mereka langsung bilang:
“Baik Pak, saya turunkan harganya.”
Dan saat itu juga posisi tawar mereka runtuh.
Menariknya, brand yang mahal bukan selalu kalah. Bahkan sering menang. Saya tahu itu karena saya pernah menjual forklift premium yang harganya jauh di atas pasar.
Kenapa bisa menang?
Karena saya tidak menjual harga, saya menjual lifetime value.
Sebagai sales forklift, Anda harus paham satu hal: customer tidak takut harga mahal—mereka takut salah beli.
Banyak pabrik punya pengalaman buruk membeli forklift murah yang akhirnya:
-
sering rusak,
-
downtime tinggi,
-
konsumsi bahan bakar boros,
-
resale value rendah,
-
service cost membengkak,
-
sparepart tidak siap,
-
unit rewel di ketinggian mast.
Ketika sales bisa menjelaskan value ini dengan yakin, harga tidak lagi jadi isu utama. Sebaliknya, ketika Anda sendiri ragu dengan value produk, Anda akan terus-terusan merasa perlu menurunkan harga untuk menang.
Ketika Sales Menjelaskan Produk Terlalu “Teknis” dan Tidak Manusiawi
Saya sering evaluasi presentasi sales dan menemukan kesalahan klasik, sales menjelaskan forklift seperti insinyur, bukan konsultan.
Mereka bicara:
-
CC engine,
-
lifting height,
-
gradeability,
-
OPS system,
-
stability triangle,
-
turning radius.
Semua itu penting — tapi hanya kalau Anda tahu kapan harus menggunakannya.
Customer bukan membeli forklift karena mereka paham detail teknis. Mereka membeli forklift karena mereka ingin:
-
kerja lebih cepat,
-
biaya operasional lebih murah,
-
downtime berkurang,
-
operator lebih aman.
Yang mereka cari adalah dampaknya, bukan istilah teknisnya.
Momen Terakhir: Ketika Sales Tidak Berani Mengunci Keputusan
Banyak sales forklift sudah melakukan semua langkah dengan baik:
-
prospeknya bagus,
-
analisa tepat,
-
presentasi solid,
-
harga kompetitif.
Tapi ketika sampai ke meja closing, mereka… bingung.
Tidak tahu cara menanyakan komitmen. Tidak tahu cara membawa pembicaraan masuk ke tahap keputusan. Tidak tahu cara menciptakan urgensi tanpa terkesan memaksa.
Akhirnya mereka menutup percakapan dengan kalimat aman:
“Silakan dipertimbangkan, Pak.”
Dan begitu kalimat itu keluar, closing yang tadinya 70% berubah jadi 20%.
Dalam forklift, customer tidak suka dipaksa, tapi mereka suka dibantu dibuatkan keputusan.
Mengunci keputusan itu bukan tentang menekan.
Mengunci keputusan itu tentang klarifikasi logika customer dan menghubungkan manfaat ke timeline bisnis mereka.
Ini seni.
Dan hanya bisa dikuasai dengan latihan.
Akar Masalahnya: Sales Forklift Tidak Punya Sistem Kerja yang Konsisten
Kalau semua cerita tadi diringkas jadi satu benang merah, penyebab terbesar sales forklift gagal closing adalah:
tidak punya sistem kerja yang terstruktur.
Tanpa sistem:
-
follow up tidak konsisten,
-
analisa tidak lengkap,
-
presentasi tidak terarah,
-
negosiasi berantakan,
-
closing mengandalkan “feeling”.
Padahal industri forklift itu bukan tempat untuk mengandalkan feeling.
Ini industri yang penuh data, risiko operasional, safety, efisiensi, dan pertimbangan finansial.
Sales yang tidak punya sistem, akan kalah oleh sales yang punya alur kerja jelas—meskipun secara skill mungkin lebih biasa saja.
Penutup: Menjadi Sales Forklift yang “Tidak Bisa Tidak Closing”
Jika Anda membaca sampai sejauh ini, kemungkinan besar Anda ingin leveling up.
Dan itu sudah langkah pertama yang penting.
Percaya atau tidak, menjadi sales forklift yang kuat itu tidak harus sempurna. Anda tidak harus paling pintar, paling vokal, atau paling agresif.
Yang Anda butuhkan hanya tiga hal:
-
Kemampuan membaca konteks operasional pelanggan.
-
Seni komunikasi yang manusiawi dan meyakinkan.
-
Sistem kerja yang konsisten, bukan kerja asal jalan.
Jika Anda memperbaiki tiga hal itu, Anda tidak hanya akan closing lebih banyak, tapi juga akan naik kelas menjadi sales yang dihargai oleh customer dan dihormati oleh tim.
Dan percaya saya, dunia sales forklift itu sangat menghargai mereka yang kompeten. Begitu Anda bisa menembus standar itu, karier Anda akan berkembang jauh lebih cepat dari yang Anda bayangkan.
Kalau Anda ingin tim sales forklift Anda:
-
lebih jago dalam analisa kebutuhan,
-
lebih cerdas menghadapi keberatan harga,
-
lebih percaya diri presentasi,
-
lebih tajam dalam menutup penjualan,
saya siap membantu melalui:
Inhouse Training Sales Forklift & Material Handling
Training Komunikasi & Public Speaking untuk Sales
Coaching 1-on-1 untuk Sales Alat Berat
Hubungi saya atau bagikan artikel ini ke tim Anda.
Semoga membantu mereka naik level di dunia sales forklift yang kompetitif. 🚀