Training HSSE Safety Awareness Frontliner Pertamina EP Cepu Yogyakarta

training safety awareness hsse usman efendi

 

Di sebuah siang di akhir November 2025, ballroom Hotel Alana Yogyakarta tidak terasa seperti ruang rapat formal.

Di antara meja-meja bundar berlapis taplak merah, 41 orang frontliner Pertamina EP Cepu duduk berkelompok, sebagian menggenggam pulpen, sebagian lain masih asyik berbincang pelan.

Di layar depan, terpampang judul besar: “Leadership HSSE for Frontliners” sebuah pengingat bahwa hari itu bukan sekadar agenda pelatihan rutin, melainkan ajakan untuk meninjau ulang cara mereka memaknai keselamatan.

Bagi pekerja migas, risiko adalah teman sehari-hari. Mereka terbiasa dengan suara mesin, rig, tekanan waktu, dan target operasi. Justru karena terbiasa itulah, bahaya sering terasa “biasa saja”.

Training ini hadir untuk mengguncang rasa nyaman itu, bukan dengan menakut-nakuti, tapi dengan mengembalikan satu pertanyaan sederhana: “Saya ini sebenarnya bekerja untuk apa, dan untuk siapa saya harus pulang dalam keadaan selamat?”

Tujuan yang Lebih dari Sekadar Memenuhi Jam Pelatihan

training safety awareness hsse usman efensi

Ini bukan training yang berhenti di tataran “tahu prosedur”. Fokusnya adalah sikap: berani mengingatkan, berani bertanya, berani berkata “ini tidak aman” walaupun mungkin artinya menghambat pekerjaan sejenak.

Bagi frontliner Pertamina EP Cepu, ini berarti naik kelas — dari sekadar “pelaksana pekerjaan lapangan” menjadi pemimpin keselamatan di lingkaran kecilnya masing-masing.

Bukan slogan, bukan jargon. Di ruangan itulah gagasan “kepemimpinan HSSE” diterjemahkan ke bahasa sehari-hari.

Yogyakarta Sebagai Ruang Jeda

training safety awareness hsse usman efensi

Training dilaksanakan pada hari Selasa, 25 November 2025, mulai pukul 13.00 hingga selesai, dengan formasi satu trainer dan satu supporter. Sebanyak 41 peserta hadir mewakili lini terdepan operasi Pertamina EP Cepu.

Memindahkan mereka dari lokasi kerja ke sebuah hotel di Yogyakarta bukan soal “gaya-gayaan”. Ruang yang netral, jauh dari hiruk-pikuk rig dan site, memberi jarak psikologis yang penting.

Di sana, mereka tidak sedang mengejar target produksi; mereka sedang mengevaluasi cara berpikir.

Di foto-foto dokumentasi, tampak peserta berdiri mengelilingi meja, tertawa ketika ikut simulasi, serius ketika mengisi lembar kerja, dan berdebat kecil saat diskusi kelompok. Di tengah suasana santai itu, pesan serius tentang HSSE disisipkan: keselamatan bukan “urusan orang HSSE”, tapi hasil keputusan sehari-hari setiap orang di tim.

Trainer yang “Bahasanya Lapangan”

Di depan ruangan, berdiri Usman Efendi — heavy equipment consultant, CEO Khazhen Group, ahli K3 PAPA & PTP, sekaligus penulis buku tentang sales forklift dan pendekatan konsultatif. Bagi banyak frontliner, CV panjang seperti ini biasanya terasa jauh. Namun, cara ia hadir di ruangan justru kebalikannya: gaya bicaranya cair, bahasanya sederhana, dan ia tidak ragu tertawa bersama peserta.

Itu sejalan dengan penilaian peserta dalam evaluasi:

  • Penyampaian trainer dinilai sangat jelas dan mudah dipahami dengan nilai rata-rata 4,80 dari skala 1–5.
  • Penguasaan materi dan contoh kasus mendapatkan 4,71.
  • Interaksi dengan peserta pun mencapai 4,80.

Angka-angka ini hanya menegaskan apa yang sudah mereka tulis di kolom testimoni: “penjelasan mudah dipahami”, “interaktif”, “tidak membosankan”, “materi ringan tapi tetap berbobot”, hingga komentar spontan seperti “Kang Usman mantap gas pollllll”.

Di dunia pelatihan, skor bisa saja tinggi karena basa-basi. Tapi pilihan kata yang muncul di testimoni di sini terasa jujur, khas bahasa lapangan: tidak terlalu rapi, tapi terasa.

Angka Evaluasi yang Bicara Banyak

training safety awareness hsse usman efensi

Kalau melihat ringkasan evaluasi, training ini mendapatkan skor yang konsisten tinggi: secara keseluruhan berada di rentang 4,6–4,8 dari 5. Bukan sekadar “bagus”, tetapi stabil di level “sangat baik” pada hampir semua dimensi yang diukur.

Pada aspek dampak dan rencana aksi, tiga pertanyaan kunci mendapat skor:

  • “Materi training membantu saya mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki” — 4,78
  • “Training ini mendorong saya membuat rencana perbaikan terkait HSSE di pekerjaan saya” — 4,76
  • “Saya berencana menerapkan pengetahuan dari training ini dalam pekerjaan” — 4,80

Angka-angka ini menunjukkan sesuatu yang penting: peserta bukan hanya merasa terhibur atau terinformasi, tapi terdorong untuk mengubah sesuatu di pekerjaan mereka. Skor 4,80 untuk niat menerapkan pengetahuan adalah sinyal kuat bahwa pesan tidak berhenti di ruangan training.

Di dimensi relevansi & insight, hasilnya juga konsisten tinggi:

  • Kesesuaian materi dengan tugas dan tanggung jawab: 4,73
  • Contoh kasus sesuai kondisi nyata di area kerja: 4,63
  • Penguatan pemahaman peran frontliner dalam keselamatan kerja: 4,76
  • Peningkatan awareness terhadap risiko pekerjaan: 4,78
  • Wawasan baru yang didapat: 4,78
  • Materi up-to-date dan relevan: 4,61

Dengan kata lain, frontliner Pertamina EP Cepu tidak merasa sedang “mendengarkan teori yang jauh dari site”. Mereka melihat diri mereka sendiri di dalam kasus yang dibahas.

Pada dimensi dampak terhadap budaya keselamatan, situasinya sama:

  • Niat merekomendasikan training ke rekan kerja: 4,68
  • Manfaat training untuk meningkatkan budaya keselamatan tim: 4,73

Orang tidak akan merekomendasikan sesuatu kepada rekan kerja kalau mereka merasa itu hanya membuang waktu. Di sini, mereka jelas merasa mendapatkan sesuatu yang layak dibawa pulang ke tim.

Terakhir, dari sisi desain sesi & fasilitas, skor juga solid:

  • Durasi training sesuai kebutuhan: 4,61
  • Materi pendukung membantu pemahaman: 4,63
  • Fasilitas ruangan mendukung kenyamanan belajar: 4,78

Artinya, secara logistik, training sudah cukup nyaman dan efektif — tapi masih menyisakan ruang untuk pengembangan, terutama di durasi dan teknis pelibatan peserta.

Di Balik Angka, Ada Kalimat-Kalimat yang Menyentuh

Angka yang tinggi itu menarik, tetapi yang lebih bicara justru kalimat-kalimat pendek di halaman “Testimoni Singkat” dan “Insight yang Didapat”. Di sana, para peserta menulis:

“Traningnya sangat dalam, jadi ingat keluarga.”
“Menyentuh secara hati terkait pesan aspek keselamatan yang sangat related dengan kondisi di lokasi dan keluarga.”
“Pemahaman mendalam terkait seberapa penting upaya kita dalam bekerja, kita bekerja tidak hanya untuk sekedar mencari uang, tetapi juga sebagai ibadah… betapa kerasnya sosok seorang kepala keluarga menafkahi keluarganya. Kita adalah pahlawan di mata keluarga yang kita nafkahi.”

Ini suara orang lapangan yang mendadak berhenti sejenak dan melihat pekerjaannya dari sudut pandang istri, anak, dan orang tua yang menunggu di rumah.

Dari sini terlihat bahwa training ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi menyentuh lapisan yang lebih dalam: identitas. Mereka tidak lagi melihat APD, prosedur izin kerja, atau toolbox meeting sebagai “aturan perusahaan”, melainkan sebagai cara melindungi peran mereka sebagai kepala keluarga, sebagai pencari nafkah, sebagai manusia yang ingin pulang utuh.

Selain itu, banyak insight lain yang muncul:

  • pentingnya safety awareness dan budaya keselamatan,
  • kesadaran bahwa tanggung jawab terhadap safety adalah milik bersama,
  • perbaikan mindset safety terutama bagi pekerja yang sudah senior,
  • pentingnya kerja sama tim di lokasi kerja.

Kalimat-kalimat seperti “bisa mendapatkan bekal safety yang bagus”, “meningkatkan kesadaran pentingnya aspek keselamatan untuk diri sendiri dan tim”, dan “menambah wawasan tentang safety” mungkin terdengar sederhana, tapi jika datang dari 41 orang frontliner sekaligus, itu adalah modal budaya yang besar.

Serius Tanpa Kehilangan Tawa

training safety awareness hsse usman efendi

Foto-foto sesi diskusi kelompok menunjukkan peserta yang berdiri, menunjuk, tertawa, terkadang saling menantang argumen. Ada permainan sederhana yang memaksa mereka bekerja sama, ada studi kasus yang membuat mereka menghubungkan pengalaman di lapangan dengan teori HSSE.

Dari dokumentasi, jelas bahwa ruangan tidak hening dan kaku. Training ini mengambil pendekatan experiential learning: peserta tidak hanya mendengar, tapi melakukan, berdiskusi, bahkan berkompetisi. Di akhir sesi, sebuah kelompok diumumkan sebagai “Kelompok Terbaik” bukan sekadar gimmick, tapi simbol bahwa kolaborasi dan komunikasi adalah inti dari leadership HSSE.

Banyak peserta kemudian menulis harapan:

  • training seperti ini diadakan minimal setiap tahun,
  • kalau bisa setahun dua kali dan di tempat yang berbeda,
  • dan yang paling sering muncul: lanjutkan tahun depan.

Permintaan untuk mengulang, datang dari peserta sendiri. Itu jauh lebih kuat daripada kalimat promosi mana pun.

Catatan-Kritik yang Justru Menunjukkan Kepedulian

Menariknya, laporan ini tidak hanya berisi pujian. Di bagian “Saran”, peserta menyampaikan beberapa masukan yang cukup jujur:

  • jumlah peserta dinilai akan lebih efektif bila sekitar 25 orang,
  • durasi training idealnya lebih panjang,
  • akan lebih baik jika setiap personel diberi kesempatan berbicara di depan forum agar keberanian mereka terasah.

Artinya, mereka cukup peduli untuk meminta ruang yang lebih intensif, bukan sekadar “yang penting selesai”. Ini sinyal bagus bagi Pertamina EP Cepu: frontliner tidak hanya menerima training sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan belajar yang mereka ingin maksimalkan.

Apa Artinya Semua Ini bagi Pertamina EP Cepu?

Kalau disarikan, ringkasan evaluasi menyatakan:

  • Overall score sangat tinggi, di kisaran 4,6–4,8.
  • Dampak ke pekerjaan tercermin dari skor 4,78–4,80 pada aspek niat membuat rencana perbaikan dan menerapkan materi.
  • Relevansi materi tercermin dari skor sekitar 4,67.
  • Dampak ke budaya keselamatan tim berada di sekitar 4,71.
  • Kualitas trainer mendapat skor rata-rata 4,77.
  • Desain sesi dan fasilitas berada di kisaran 4,67.

Untuk sebuah organisasi sekelas Pertamina EP Cepu, angka ini bukan sekadar “rapor bagus”. Ini adalah cermin bahwa frontliner siap diajak melangkah lebih jauh dalam urusan HSSE, sepanjang mereka dilibatkan dengan cara yang tepat: relevan, kontekstual, dan manusiawi.

Tantangan berikutnya bukan lagi di ruang training, tetapi di rig, di lapangan, di tengah shift malam dan kejar target. Apakah niat membuat rencana perbaikan itu diikuti dengan forum rutin untuk membahas ide-ide kecil di level tim? Apakah keberanian untuk mengingatkan rekan kerja didukung atasan, atau justru dianggap “menghambat pekerjaan”?

Leadership HSSE selalu menjadi kombinasi antara tiga hal:

  1. Mindset individu — yang sedang disentuh lewat training ini.
  2. Budaya tim — bagaimana rekan kerja saling menegur dan melindungi.
  3. Sistem organisasi — prosedur, reward, dan contoh dari manajemen.

Training ini terutama menggarap yang pertama, dan mulai menggeser yang kedua. Untuk yang ketiga, bola ada di tangan perusahaan.

Dari Ruang Training ke Rumah Masing-Masing

training safety awareness hsse usman efendi

 

Pada foto penutup, seluruh peserta dan trainer berdiri di depan, sebagian mengangkat tangan dengan ekspresi puas, lelah, tapi lega. Di bawah tulisan besar tentang HSSE Performance dan Leadership HSSE, mereka tersenyum ke kamera.

Namun ukuran sejati dari keberhasilan training ini bukan di sana. Ukurannya ada di hari-hari setelah mereka pulang ke Cepu:

  • Apakah ada lebih banyak laporan kondisi tidak aman?
  • Apakah toolbox meeting menjadi lebih hidup, bukan sekadar formalitas?
  • Apakah rekan kerja mulai saling mengingatkan cara menggunakan APD dengan lebih sabar?

Jika suatu hari nanti, seorang operator menunda pekerjaan beberapa menit hanya karena ia memilih memasang pengaman tambahan, dan keputusan kecil itu menyelamatkan nyawanya, maka training ini telah membayar dirinya sendiri berkali-kali lipat.

Karena pada akhirnya, pulang selamat bukanlah bonus; itu adalah janji diam-diam yang setiap pekerja migas buat kepada keluarganya. Di Yogyakarta, 25 November 2025, frontliner Pertamina EP Cepu diingatkan kembali akan janji itu lewat materi yang kuat, angka evaluasi yang tinggi, dan, yang paling penting, momen hening ketika mereka sadar bahwa di balik setiap helm dan coverall, ada seseorang di rumah yang menunggu.

Recent Post

Training HSSE Safety Awareness Frontliner Pertamina EP Cepu Yogyakarta
26Nov

Training HSSE Safety Awareness Frontliner Pertamina EP Cepu Yogyakarta

  Di sebuah siang di akhir November…

Pasar Forklift di Indonesia yang Harus Sales Pahami
22Nov

Pasar Forklift di Indonesia yang Harus Sales Pahami

Banyak sales forklift di Indonesia yang rajin,…

21Nov

Selama saya hidup di dunia penjualan forklift,…

×